Saturday, 16 April 2016

Siapapun kau, seribu satu cahaya yang dihadirkan



Pernah dalam suatu masa, Tuhan terasa sedemikaian absurd. Mengirimkan seseorang yang tengah berjalan ke suatu titik dalam hidupnya. Barangkali semula, ia pun tak berniat hadir dalam hidup kita.

Kalau Tuhan sudah memberikan wacana. Mampuslah aku yang merasa amat bodoh melihat dunia. Aku menangis sebab pernah membaca bahwa kebodohan seorang manusia, bukan akibat dia tidak mau belajar, tapi juga karena dia bersikukuh dengan perasaannya yang membuat ia stagnan. Maka, aku ingin belajar, bukan untuk pintar. Tapi untuk lebih bijaksana membaca dunia besarku. Aku terseret terus dan terus ke semesta yang lebih luas. Perlahan awan terkuak, sehingga pandanganku ke langit jadi lebih leluasa. Namun, masih sebatas jarak pandang...belum tembus waktu. Keinsananku masih belum kuraih dan kusesapi hikmah. 'Aku' ku masih bergumul dalam bayang kesamaran. Aku masih mencari bentuk dalam diriku sendiri. Sampai pada suatu kali, Tuhan membuat koneksivitas. Ada kecemasan dan kegilaan yang hanya Tuhan dan aku yang tahu bagaimana rasanya. Aku takmau capek menganalisis:)

Dan.Dia penggelisah yang takpernah mati.  

Kegelisahan menggema dan menggaung dalam bahasa jiwa seorang tokohku ini. Tulisannya kerap mencecar beranda. Kalimat - kalimat segar bertebaran, kadang disisipi humor cerdas, taklepas dari satir yang menusuk, belum lagi pilihan katanya yang nyastra terasa melayang-layang memesona. Dunia virtual, seakan rumah singgah bagi gemuruh gairah estetikanya. Meski ia mungkin tidak mau dilabeli seniman, bagiku, ia layak menjadi seniman yang diketahui publik. 

Aku menamakan tokohku ini Sang Meteor:D

Ternyata, ia pun seribu satu cahaya dalam hidup seseorang. Demikian pula, seseorang terhadap seseorang lain, menyatakan bahwa ia, Sang Meteor itu, satu dari seribu cahaya.

________________________________________________________

# Tokoh yang akan kutuliskan, bersambung dalam ruang tunggu. 








Wednesday, 6 April 2016

Oh Guruku, Suara Cahaya

KAROMAH ; MELIPAT JARAK YANG HAKIKI
Saya ingin berbagi hikmah petikan dakwah KH. Zezen Zaenal Abidin B.A. Beliau  adalah sosok ulama besar di Indonesia yang peta dakwahnya merambah hingga ke wilayah Asia. Beliau wafat ditengah santri-santrinya setelah pulang berdakwah, tahun 2015.  Kebersahajaan dan  keluasan ilmunya terpancar bukan saja di bidang agama, terutama tassawuf. Akan tetapi, Beliau pun dikenal sebagai ulama yang serba bisa serta berpandangan moderat. Ditangannya, dunia dakwah menjadi indah dan membumi. Beliau amat menyukai Sastra. Banyak syair atau lagu yang diciptakannya untuk kemudian Beliau sisipkan di antara ceramahnya. Adapun buku  masyur yang pernah disusun Beliau adalah kitab Sirrur Asrar ( Rahasia-Rahasia ), karangan Syaikh Abdul Qadir AlJailani QS. Berikut satu uraian ceramah Beliau yang saya sadur dari postingan di media sosial keluarganya. Semoga bermanfaat.
• Mohon keikhlasannya untuk terlebih dahulu membaca surat al Fatihah untuk beliau, pangersa Uwa.
Ilaa hadhroti syekh Zezen Zaenal Abidin Bazul Asyhab. Al fatihah.
اَلطَّيُّ الْحَقِيْقِيُّ اَنْ تَطْوِيَ مَسَافَةَ الدُّنْيَا عَنْكَ حَتَّى تَرَى الْآخِرَةَ اَقْرَبَ إِلَيْكَ مِنْكَ
"Atthayyu (kemampuan melipat/meringkas jarak) yang hakiki ialah jika engkau bisa melipat jarak dunia ini, sehingga engkau dapat melihat akhirat itu lebih dekat kepadamu dari pada dirimu sendiri".
Di dalam kitab jaami’u karoomaatil auliya syekh Yusuf An Nabhani menjelaskan tentang beberapa jenis karomat wali-wali Alloh, diantaranya ada “inziwa-ul ardhi” (mengerutkan bumi) atau dikenal juga dengan istilah “Thayyul ardhi” (melipat bumi/jarak), dan thayyuzzaman (meringkas waktu), contohnya para wali dari pamijahan (Tasikmalaya, Jawa Barat) berangkat ke mekah yang tadinya berjarak ribuan kilometer dan membutuhkan waktu berjam-jam atau berhari hari, tapi hanya ditempuh dalam waktu 5 -10 menit bahkan bisa sekejap mata. inilah athhayyu yang dikenal oleh banyak masyarakat dan dianggap sebagai tanda kewalian seseorang, sehingga kalau tidak bisa seperti itu, diragukanlah kewaliannya.
Dampaknya, tidak sedikit orang belajar tarekat yang terobsesi oleh kemampuan tersebut, terus mengharapkannya sampai putus asa, “kenapa ya saya belajar tarekat sudah bertahun-tahun, tapi ko gini-gini aja, belum ada karomatnya”
Kalau dalam diri kita masih ada fikiran seperti itu, mari kita luruskan. Syekh ibn Athoillah, dalam hikmah ke 87 di atas menegaskan bahwa atthayyu (pelipatan) yang hakiki bukan melipat jarak, sampai ketempat yang jauh dalam sekejap mata. Dalam bertarekat, kemampuan seperti itu jangan dikejar-kejar, seandainyapun suatu saat mengalami, lewatkan saja, tidak usah diingat-ingat apalagi diumbar kepada orang lain, supaya tidak terjebak.
Menurut beliau, Atthayyu yang hakiki adalah pandangan qalbu tembus ke akhirat, apapun yang dilakukan di dunia selalu diperhitungkan manfaat dan madharatnya untuk kehidupan di akhirat. Contoh kalau mau berbicara, timbang dulu, pembicaraan ini bermanfaat tidak ya untuk diakhirat?, kalau saya melakukan ini, kira-kira di akhirat bagaimana ya? bahaya tidak?.
Seperti inilah atthayyu yang sebenarnya, yang dilipatnya bukan jarak di bumi dari satu tempat ke tempat lain, melainkan dari bumi ke akhirat. Orang yang sudah berkemampuan melakukan atthayyu yang hakiki ini, terkadang diberi thayyul ardhi (melipat jarak) yang tadinya jauh menjadi dekat. Dalam tarekat hal seperti ini masuknya kedalam bonus, bukan tujuan.

Friday, 1 April 2016

Di Meja Kopi Kita

Ada yang tak biasa
Pagi  tumpah
Meja gerah
Sajak menjadi abu
Langit tak lagi sendu.

Hanya ada yang tak lagi biasa
Mata tertukar lupa
Aksara kabur
Suara hati terkubur.

Handphone dan Serok

Pada pagi buta hatiku berloncatan.
Sepasang tangan kusingkirkan.
Mataku telah menyusuri dapur.
Diorama perkakas menggantung di sunyi.
Fajar telah berlari, ketika sebuah  handphone
Beberapa kali berdering.
Selamat pagi, sayang. Aku kangen aroma bumbu,hidangan
peluhmu. Kangen suaramu, peluuk.
Lantas handphone-ku terjatuh, terlanjur beradu.
Disenggol serok dan wajanku.



 Jl. Suci Bandung, 2015




Thursday, 10 March 2016

MUTIARA HADIST DZIKIR DAN SYUKUR

Manusia yang paling bersyukur kepada Allah Swt adalah mereka yang paling bersyukur/berterima kasih kepada sesama manusia.
(HR. Ahmad At-Thobroni, Al-Baihaqi Ad-Dliya).

Barangsiapa memohon bagiku sebagai washilah atau batu loncatan, maka halal pertolongan itu kepadanya.
(HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Turmudzi, An-Nasaa'i, dari Ibni Umar [shahih]).

Dari Abi Dzaar, berkata: "Aku telah bertanya kepada Rasulullah Saw, Hai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku perbuatan yang mendekatkanku ke syurga dan menjauhkanku dari neraka," Nabi bersabda:"Apabila kamu berbuat satu kejahatan maka perbuatlah satu kebaikan, maka  karena satu kebaikan itu sepuluh pembalasan. Abu Dzar berkata,"Ya Rasulullah, LAA ILAAHA ILLALLAH termasukkebaikan?" Nabi Saw besabda:"Ia (kalimat itu) adalah yang paling baik dari segala kebaikan,"  [Pada suatu riwayat, ia adalah yang paling agung dari segala kebaikan]. 
(Kitab Hulyatul Aulia wathobaqotul ashfiya hal. 217 - 215,juz 4).

Dzikir itu adalah nikmat dari Allah Swt, maka buktikanlah tanda mensyukurinya.
 (HR. Ad-Dailamy dari Nabith bin Sanith).

Tidak ada satu haripun, melainkan pada hari itu Allah Swt melimpahkan berbagai nikmat kepada seluruh makhlukNya terutama kepada manusia. Dan Allah tidak memberi nikmat kepada hamba-Nya, yang lebih agung daripada Ia mengilhamkan kepadanya ingin dzikir kepada Allah.
(AlHadist).

Nabi Muhammad Saw memerintahkan agar umatnya menerangi rumah-rumahnya dengan dzikir dan membaca Al-Qur'an, pada lain riwayat, dengan shalat dan membaca Al-Qur'an.

Apabila kamu dzikir kepada-Ku, maka kamu bersyukur kepada-Ku dan apabila kamu lupa kepada-Ku, maka kamu kufur kepada-Ku.
(Hadist Qudsi).

Mengingat sejarah para Nabi (menguiraikan) riwayat hidupnya adalah ibadah  sejarah orang-orang yang shalih, kifarat (menutup kesalahan) dan ingat akan mati shodaqoh dan ingat kubur, mendekatkan kamu sekalian dari syurga.
(HR. Ad-Dailamy dari Mu'ad).





Tuesday, 9 February 2016

Puisiku

Evaporate Desember

 Mari kita saling diam.
 Mematungi senja dipersimpangan kilometer Desember.
 (Tentu lebih asyik!)
 Menunggu lengkung pelangi.
 Memandangi kaki bidadari.
 Memburu perjalanan bintang malam hari.

 Mari kita saling diam.
Sebab aku tak mengenalmu.
Jejak angin menyemilir.
Amboi, genta tubuhmu menyala..
Menyibak sajak tanpa kuajak.

Aku sibuk memangkas ranting-ranting yang menusuk buntalan awan.
Kurapikan kuntum-kuntum liar bermekaran.
Segelas cangkir kosong tertawa.
Memecah meja.
Menyulapnya menjadi lampu-lampu di beranda.

 Aku tak ingin mabuk,
 tapi teks-teks dikepalamu memaksaku larut.
 Pelan-pelan senja menjadi bulan.
 Menjadi lampion malam hari.
 Menjadi rel-rel kereta.
 Menghantarkan derit menjadi nada.

 Aku masih ingin diam.
 Mungkin hanya menitipkan
 Sebagian kitabku, dikitabmu.

 (Bandung, 2016)

Saturday, 28 May 2011

RESENSI ANTOLOGI PUISI "ISYARAH QOLBU" (ANAM KHOIRUL ANAM)

Kebetulan waktu itu saya lagi ingin belajar membuat resensi buku. Kemudian, saya menemukan statusnya Mas Anam yang mengajak kawan-kawan di FB untuk memberikan pendapat atas buku beliau yang baru diterbitkan.Petama saya ucapkan terima kasih kepada penulis karena telah memberikan hadiah buku promo"Aphorisma" yang menemani "Isyarah Qolbu" dan "Mistikus Cinta" :).Waktu Mas Anom tanya ke saya,"Bagaimana...?" maksudnya bagaimana pendapat saya setelah membaca karyanya,sejenak saya termenung.Saya jawab sambil tertawa speechless,"Subhanalloh,...sip,sip,bagus,bagus...", padahal saya pengen bilang,"Saya harus baca Basmallah dulu lalu tarik nafas."
Membaca lembar demi lembar halaman puisi ini, seperi terperangkap pada sebuah 'ruang'  aspek ruhani yang cantik; bergema,dan berdenting.Selanjutnya, saya memasuki wilayah estetika yang seperti pernah saya dengar sebelumnya. Ah, dimana ya suara itu?..Tentu saya harus sembari "tersenyum" membaca antologi ini, karena kalau cemberut apalagi hati lagi kisruh, tentu pembaca takdapat menikmati nilai estetika yang disuguhkan.Diperenungan kita, dikeheningan kita...semua akan terasa.
Hingga akhirnya...monolog-monolog tersebut seperti gerak kosmik penari jiwa;ingin menghaturkan 'persembahan' kepada Sang Pencipta..